Budaya

Enam Tari Kontemporer Dikemas Dalam 1,5 Jam

Festival Seni Bali Jani 2019 pada Rabu (30/10/2019) menampilkan Sanggar Gumiart untuk membawakan ragam tari kontemporer. Keenam tari yang ditampilkan antara lain berjudul ‘Busung Mangigel’, ‘Mozaik Nusantara’, ‘Sura Magadha’, ‘Lost’, ‘Baris Wayang’, dan ‘Adyus Apwi’ yang dipentaskan di panggung Kalangan Angsoka, Art Centre Denpasar dengan durasi kurang lebih satu setengah jam. 

Koreografi dan konsep keenam tarian kontemporer ini dirancang oleh founder sekaligus pemilik Sanggar Gumiart, I Gede Gusman Adi Gunawan atau yang lebih akab dengan sapaan Wawan. Untuk mempersiapkan penampilannya pada Festival Bali Jani ini, Wawan beserta para penari melakukan persiapan kurang lebih selama sebulan.

“Persiapannya kurang lebih ada sebulan. Karya yang kami bawakan tidak sepenuhnya baru, jadi ada yang sudah pernah kami publish sebelumnya. Tetapi karena pas juga dengan tema dari Festival Bali Jani yang menghadirkan konteks kekinian, jadi ada karya yang sudah siap untuk dipentaskan di sini. Jadi persiapannya tidak terlalu lama,” ujar Wawan. 

Salah satu tarian yang pernah ditampilkan sebelumnya yakni Mozaik Nusantara, yang menampilkan konsep keberagaman etnis di Nusantara. Tarian ini pernah ditampilkan di Pekan Olahraga Provinsi Bali 2019 mewakili kontingen Karangasem yang sukses meraih medali emas. Selain itu, adapun tarian Lost garapan Agung Ayu Fajar dari Sanggar Gumiart merupakan tarian yang untuk pertama kalinya ditampilkan di Festival Bali Jani 2019 ini. 

Wawan melanjutkan, proses pembuatan sebuah tarian baru berkisar antara dua hingga tiga bulan. “Tidak bisa kita menakar sebuah karya untuk jadi dalam seminggu. Tergantung konsepnya seperti apa, itu akan membuat sebuah pola berapa lama kita harus berproses. Tapi sebagian besar kurang lebih sekitar dua tiga bulan untuk persiapan, karena banyak elemen yang harus dipersiapkan, bukan hanya gerak saja tapi juga pendukung yang lain. Ada lighting, musiknya, kostumnya juga, dan yang lainnya,” lanjut Wawan.

Dalam prosesnya membuat tarian baru ini, tantangan terbesar ada pada persona jati diri yang ingin ditunjukkan melalui sebuah tarian. “Setiap karya itu harus mewakilkan jati diri kami, jadi kami berusaha untuk tetap menghadirkan jati diri kami, tidak mencontek siapapun,” tegas pemilik sanggar yang telah berdiri sejak 2009 ini.

Sumber: denpasarkota.go.id

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Informasi Terpopuler

To Top