Recommended!

HUT ke-232 Kota Denpasar Ini Sejarahnya

HUT Kota Denpasar ini memang diperingati setiap 27 Februari.

Perayaan HUT Kota Denpasar kali ini diawali dengan pelaksanaan upacara di Lapangan Lumintang, Denpasar, Bali, dengan inspektur upacara Wali Kota Denpasar, Rai Mantra.

HUT Kota Denpasar kali ini mengambil tema Denpasar Rahayu Guna Kaya.

Sekda Kota Denpasar, AAN Rai Iswara mengatakan, secara umum Rahayu Guna Kaya dapat diartikan sebagai kekayaan dan kesejahteraan.

Dimana dalam lingkup Kota Denpasar, tema ini diimplementasikan sebagai sebuah gebrakan inovasi untuk memberikan kesejahteraan rakyat dan kebahagiaan masyarakat.

“Jadi tema besar ini tak lepas dari komitmen menciptakan Denpasar kreatif berwawasan budaya dalam keseimbangan menuju keharmonisan, yang bermuara pada kesejahteraan rakyat dan kebahagiaan masyarakat,” katanya.

Beragam kegiatan dilaksanakan, yakni melaksanakan aksi kebersihan, sosial, olahraga, Pameran Pelayanan Publik, dan Malam Apresiasi Budaya.

“Perlu kami tekankan bahwa ini merupakan HUT Kota Denpasar, dimana ini merupakan harinya seluruh masyarakat Kota Denpasar yang berbahagia, dan semua masyarakat diberikan kebebasan berkontribusi dan melaksanakan kegiatan,” kata Rai Iswara.

HUT Kota Denpasar ini diperingati sesuai dengan berdirinya Puri Denpasar tahun 1788.

Berdasarkan dokumen yang didapat Tribun Bali dari Humas Kota Denpasar, sesuai dengan penelusuran sejarah Kota Denpasar yang dilakukan Bappeda Denpasar, berikut sejarah berdirinya Puri Denpasar.

Ada seorang raja yang menjadi pewaris tahta di Puri Alang Badung.

I Gusti Pukulbe Aeng merupakan putra dari I Dewa Agung Anom di Puri Sukawati.

Tahun 1750 ia memindahkan keratonnya dan membangun Puri Satria.

Nama Puri Satria ini dikaitkan dengan Raja l Dewa Agung Anom di Puri Sukawati yang merupakan trah Ksatria.

Saat Raja I Gusti Pukulbe Aeng wafat dan digantikan putranya I Gusti Ngurah Pukulbe Ksatria, Puri Satria menjadi Iemah.

I Gusti Ngurah Pukulbe Ksatria memimpin hingga tahun 1779 setelah gugur di tangan pasukan I Gusti Ngurah Made.

Kelemahan ini digunakan I Gusti Ngurah Rai, adik I Gusti Ngurah Made seorang manca di Puri Kaleran, bawahan dan cucu raja di Puri Pamecutan.

Pertama I Gusti Ngurah Rai mengadakan perundingan dengan Dewa Manggis, raja di Kerajaan Gianyar.

Dewa Manggis pun menyatakan kesiapannya membantu usaha I Gusti Ngurah Rai.

Untuk melaksanakan niatnya, ia sengaja mencari alasan perselisihan dengan raja di Puri Satria.

Upaya ini berhasil dan berakibat dikepungnya Puri Satria oleh I Gusti Ngurah Made yang dibantu laskar Gianyar.

Serangan gabungan ini berhasil dan menewaskan Raja I Gusti Ngurah Pukulbe Ksatria.

Bekas kekuasaan Puri Satria lalu diambil alih oleh I Gusti Ngurah Made.

Karena Puri Satria rusak, maka I Gusti Ngurah Made mendirikan keraton baru yang dijadikan pusat untuk mengendalikan pemerintahannya di sebelah selatan Puri Satria.

Karena didirikan di sebelah utara pasar, maka setelah selesai diberi nama Puri Denpasar (kini Jaya Sabha) pada tahun 1788.

I Gusti Ngurah Made dalam pemerintahannya menggunakan gelar I Gusti Ngurah Made Pamecutan (1788-1813), karena keturunannya dari Puri Pamecutan dan dari pihak raja di Puri Pemecutan pun mengakui kekuasaan raja di Puri Denpasar.

Untuk menepati janji I Gusti Ngurah Rai terhadap Raja Gianyar yang telah membantunya, Raja I Gusti Ngurah Made Pamecutan menyerahkan Desa Batubulan menjadi wilayah Kerajaan Gianyar.

Janji lainnya ialah wasiat yang diberikan Raja I Gusti Ngurah Pukulbe Ksatria di Puri Satria sebelum tewas, yaitu menyerahkan permaisuri yang masih hamil kepada I Gusti Ngurah Made Pamecutan disertai syarat.

Syarat dan wasiat itu menyatakan bahwa kelak apabila lahir anak laki-laki, maka dia yang berhak menduduki tahta kerajaan (Ida Cokorda Denpasar IX).

l Gusti Ngurah Made Pamecutan adalah raja pertama dari Puri Denpasar yang memperluas wilayah Kerajaan Badung.

Pernah menyerang dan menguasai Kerajaan Jembrana (1805-1818), namun pada tahun 1818 direbut oleh Raja Buleleng.

I Gusti Ngurah Made Pamecutan membagi daerah kekuasaannya kepada dua orang putranya, yaitu l Gusti Gde Ngurah dan I Gusti Gde Kesiman sebelum dia wafat pada tahun 1813.

Tahta di Puri Denpasar diwariskan kepada I Gusti Gde Ngurah.

Setelah dinobatkan, ia bergelar l Gusti Ngurah Pukulbe, Raja Denpasar II (1813-1817).

Sumber: denpasarkota.go.id

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Informasi Terpopuler

To Top