Terkini

Putu Chris Budi, Undagi Spesialis Layangan Kuwir Atau Janggan Buntut

Putu Chris Budi dikalangan pelayang dikenal sebagai salah satu undagi dari daerah Denpasar. Chris begitu ia sering disapa, menuturkan kalau ia sudah sejak kecil menyukai layangan. Berawal dari seringnya ia diajak menonton layangan oleh para penglingsirnya terdahulu, kemudian ia menjadi hobi bermain layangan.

chris budi rare angon
Putu Chris Budi

Chris kecil saat itu awalnya membuat layangan dari semat(lidi dari bambu) kemudian ia mulai belajar meraut bambu sehingga ia bisa membuat layangan yang biasa digunakan untuk adu layangan (mekorot). Mulai memasuki masa SMP, Chris semakin tertarik untuk bisa membuat layangan dengan belajar kepada beberapa penglingsir yang dianggapnya sebagai undagi layangan tradisional saat itu.

Chris sedang meraut bambu untuk membuat layangan

Diakhir masa SMP ia sudah bisa untuk membuat layangan tradisional yaitu layangan bebean. Semenjak itulah ia mulai menekuni untuk membuat layangan Bebean.

nebeye kite bebean
Proses pembuatan layangan Bebean – Foto oleh Nebeye Kite

Chris yang juga sebagai pengusaha travel ini awalnya terkenal sebagai undagi layangan Bebean. Layangan Bebean yang ia buat saat itu sering mendapatkan juara dalam lomba layang-layang sehingga ia mulai mendapatkan pesanan untuk membuat layangan Bebean. Namun saat itu ia belum ada rencana untuk menjual layangan yang ia buat. “Saat itu saya menerima pesanan pembuatan layangan hanya karena hubungan kekerabatan saja dan ada rasa puas jika layangan tersebut berhasil mengudara dengan baik apalagi bisa menjadi juara,” kenang Chris.

nebeye kita umkm layangan expo
Chris bersama Nebeye Kite saat mengikuti UMKM Layang-Layang Expo 2021

Chris kemudian mencari tantangan lain dengan beralih untuk membuat layangan Kuwir atau sering disebut sebagai Janggan Buntut. Selain mencari tantangan baru, ia merasa kalau layangan Kuwir ini sangat sedikit peminatnya atau jarang untuk dinaikkan. Ia juga mengajak rekan-rekan sesama pelayang untuk mendorong panitia lomba untuk mengadakan kategori layangan Kuwir agar jenis layangan tradisional ini tidak punah.

janggan buntut kuwir
Layangan Kuwir hasil karya Nebeye Kite – Foto oleh Nebeye Kite

Sejak itu ia mulai membuat layangan Kuwir dan mulai untuk menjual layangan tersebut. Dengan harga dari 300rb-an, ia menerima banyak pesanan baik dari Bali maupun dari luar Bali. “Kalau pesanan dari luar Bali, saya pasti membuatnya secara knock down(bisa dibongkar pasang) untuk mempermudah dalam pengiriman. Saya cukup mengirimkan video cara merakitnya saja,” cerita Chris yang mendirikan Nebeye Kite bersama adiknya yang juga seorang undagi.

chirs undagi
Chris menyiapkan layangannya di UMKM Layang-Layang Expo 2021

Saat usaha travelnya dihantam pandemi, usaha pembuatan layangan ini cukup membantunya. Kalau dulunya ini sebagai usaha sampingan, namun saat ini, usaha pembuatan layangan ini sebagai usaha utamanya.
Pemesanan layangan tidak jauh berbeda saat sebelum pandemi maupun saat ini. Perbedaannya hanyalah dari segi jenis layangan yang dipesan.

undagi rare angon
Chris saat melayani pembeli di UMKM Layang-Layang Expo 2021

“Kalau dulu hampir semua pesanan adalah layangan yang akan digunakan untuk lomba dengan ukuran besar 3 meter keatas, namun sekarang karena tidak ada lomba lagi, hampir semua pesanan adalah jenis layangan dibawah 3 meter yang biasa dinaikkan di lingkungan rumah”, terang Chris.

Nebeye Kite
Chris bersama Sekeha Nebeye Kite – Foto oleh Nebeye Kite

Chris sendiri memiliki pengalaman dimana beberapa kali foto layangannya digunakan oleh penjual layangan lain. “Saat itu saya dapat info dari teman kalau ada yang menggunakan foto layangan saya dan juga ada salah satu pengguna Market Place terkenal menggunakannya. Kesal ya pasti kesal, namun saya tetap menyelesaikannya secara kekeluargaan. Saya hanya mengingatkan kalau mau jualan layang-layang sebaiknya gunakan foto hasil karya sendiri,” ujarnya.

nebeye kite
Chris saat menaikkan layangan – Foto oleh Nebeye Kite

Chris yang juga mantan atlet karate ini berharap agar organisasi yang menaungi para pelayang (Pelangi Bali) bisa lebih berperan dan memperhatikan lagi komunitas-komunitas pelayang yang semakin banyak tumbuh di Bali ini. “Saya berharap organisasi ini tidak hanya melaksanakan lomba layangan saja, tetapi juga aktif audensi ke pemegang kebijakan kalau melayangan ini memang bagian dari budaya kita di Bali. Selain itu organisasi bisa mendorong agar membuat layangan ini bisa dimasukkan ke kurikulum di sekolah,” tandas Chris dengan penuh harap.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Informasi Terpopuler

To Top